Pena Laut - Idul Fitri selalu menjadi puncak kegembiraan umat Muslim setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan. Perayaan ini tidak hanya syarat dengan makna spiritual, tetapi juga kental dengan nuansa sosial dan budaya. Sejak gema takbir, tahmid, tasbih dan tahlil dikumandangkan. Berlangsungnya tradisi saling memaafkan, kehadiran hidangan lebaran warisan leluhur, hingga berkumpulnya keluarga besar—semua menciptakan atmosfer yang khas dan hangat. Namun, di tengah hiruk-pikuk ini, ada satu kelompok yang kerap dilupakan dalam perayaan ini, yaitu anak-anak.
Gegap gempita lantunan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil menggema di surau-surau kampung, masjid-masjid, dan rumah-rumah. Anak-anak pun turut menyambutnya dengan penuh kebahagiaan, meniru gaya orang dewasa dengan menabuh bedug dan mengumandangkan takbir. Keterlibatan mereka dalam suasana ini bukan sekadar ekspresi kegembiraan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran yang alami.
Momentum kehangatan ini semakin terasa saat keluarga - keluarga berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan salat Idul Fitri. Ini adalah praktik pendidikan yang luar biasa, di mana anak-anak mengalami langsung nilai-nilai kebersamaan, kebersihan, dan penghormatan dalam beribadah. Saat khidmatnya suasana tersebut, terselip harapan agar para khatib juga memberikan perhatian khusus kepada anak-anak— tidak hanya menyeru sebutan-sebutan para jamaah secara umum, namun bersedia menyebut anak-anak sebagai bagian dari jamaah yang hadir, dengan penuh kasih sayang dalam khutbahnya, mengakui keberadaan mereka sebagai bagian penting dalam ruang-ruang keagamaan. Dengan begitu, anak-anak akan tumbuh dengan kepercayaan diri dan merasa dihargai dalam komunitasnya. Inilah awal mula pendidikan ramah anak dalam kehidupan beragama, yang perlu terus dijaga dan dikembangkan agar mereka tidak hanya merasa hadir, tetapi juga memiliki tempat yang diakui dalam perjalanan spiritual mereka.
Khazanah pengetahuan Islam telah mencatat riwayat dari Nabi Muhammad SAW yang sangat memperhatikan kondisi psikologis dan spiritual anak bahwa beliau sering menyapa anak-anak, mendengarkan mereka, bahkan dalam peristiwa-peristiwa penting keagamaan (al-Bukhari, Shahih al-Bukhari). Beberapa referensi pemikiran salah satunya Jean Piaget dalam teori tahapan perkembangan kognitifnya juga menyatakan bahwa anak-anak pada usia sekolah dasar (SD) sudah mampu memahami konsep moral dan nilai sosial melalui pengalaman konkret, termasuk perayaan keagamaan seperti Idul Fitri ini.
Saatnya Idul Fitri ramah anak, yang memosisikan anak-anak bukan sekadar sebagai individu yang harus dibentuk oleh lingkungan, tetapi sebagai subjek dengan hak-hak yang melekat pada diri mereka. Konvensi Hak Anak PBB menegaskan bahwa setiap anak berhak didengar dan dilibatkan dalam keputusan yang berdampak pada hidup mereka, termasuk dalam tradisi dan perayaan keagamaan. Senada dengan Paul Mizen yang menganggap banyak kebijakan mengatasnamakan kepentingan anak justru lebih berorientasi pada kepentingan ekonomi dan politik semata. Dalam praktiknya, perhatian terhadap anak sering kali bersifat simbolis—terlihat berpihak, tetapi tidak benar-benar mengakomodasi kebutuhan nyata mereka. Dengan pendekatan seperti ini, Idul Fitri tidak lagi menjadi perayaan yang hanya diwariskan, tetapi juga dipilih dan dihayati bersama anak-anak sebagai bagian dari proses pembentukan identitas spiritual dan sosial mereka. Karena sejatinya, kembali ke fitrah bukan hanya soal hubungan vertikal kepada Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal kepada sesama manusia—termasuk menghormati anak sebagai manusia utuh dengan hak dan martabatnya.
Dalam banyak tradisi keagamaan dan kebudayaan, anak-anak kerap diposisikan sebagai pihak yang pasif, yang hanya mengikuti instruksi dan agenda yang telah disusun oleh orang dewasa. Pandangan ini perlu ditinjau ulang. Dalam kajian sosiologi anak, seperti yang dikemukakan oleh Allison James, Chris Jenks, dan Alan Prout, anak bukan hanya obyek yang dibentuk, tetapi juga social actors yang memiliki agensi dalam membentuk makna dan relasi sosial mereka (James et al., 1998).
Melibatkan anak-anak dalam persiapan lebaran, seperti menyiapkan perayaan dengan tradisi-tradisi baik para leluhur atau tetua nya, meramu aneka menu khas hari raya, mendekorasi rumah adalah bentuk pengakuan terhadap kapasitas mereka. Anak-anak akan merasa dihargai jika diberikan kesempatan untuk mengambil peran, bukan sekadar menjadi “pengikut” dalam tradisi orang dewasa. Ini juga sejalan dengan konsep individualisation of childhood dari Brannen dan O’Brien, yang menekankan pentingnya pengakuan atas identitas dan suara anak dalam kehidupan keluarga dan sosial (Brannen & O’Brien, 1995).
Komitmen dan kesediaan para orang tua, pemuka agama sudah harus dimulai, untuk memastikan bahwa anak-anak tidak hanya menjadi pelengkap dalam perayaan, tetapi juga mendapatkan pengalaman yang bermakna. Bukan sekadar menerima angpau atau mengikuti tradisi yang sudah ada, tetapi juga dilibatkan dalam kegiatan yang memperkaya pemahaman mereka tentang makna syukur, berbagi, dan kebersamaan. Perayaan yang ramah anak berarti menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi mereka, mendengarkan pendapat mereka, serta memberikan hak dasarnya, yaitu pendidikan yang baik, ruang yang aman untuk tumbuh kembang pengalaman melalui perhatian orang-orang dewasa dalam memaknai perayaan dengan cara yang mereka pahami.
Salah satu kunci menjadikan Idul Fitri lebih ramah anak adalah memastikan mereka merasa aman dan nyaman sepanjang perayaan. Dalam tradisi keluarga besar, anak-anak sering kali diharuskan berinteraksi dengan kerabat yang jarang mereka temui. Bagi sebagian anak, ini bisa menjadi pengalaman menyenangkan, tetapi bagi yang lain, bisa menimbulkan rasa canggung atau bahkan ketidaknyamanan. Banyak anak merasa tidak nyaman ketika dipaksa bersalaman dengan orang dewasa yang tidak mereka kenal, atau dicecar pertanyaan-pertanyaan yang terlalu personal seperti “kapan disunat?”, “ranking berapa?”, atau “sudah hafal juz 30 belum?”. Ini dapat memicu kecemasan sosial sebagaimana dijelaskan oleh Erik Erikson dalam tahap perkembangan psikososial, di mana anak-anak sangat sensitif terhadap penerimaan sosial dan penghargaan diri (Erikson, 1963).
Berhadapan dengan situasi ini penting bagi orang dewasa untuk menghormati batasan anak-anak. Misalnya, memberikan mereka kebebasan untuk tidak dipaksa bersalaman jika merasa tidak nyaman, serta menghindari pertanyaan yang terlalu personal atau menekan. Dengan pendekatan yang lebih sensitif ini, karena Idul Fitri tidak hanya menjadi ruang kebahagiaan bagi orang dewasa, tetapi juga bagi anak-anak—memberikan mereka suasana untuk merayakan dengan cara yang membuat mereka merasa dihargai dan diterima.
Meskipun fakta sosial masih menyisakan sisi gelap, perayaan Idul Fitri bagi sebagian anak justru bergeser dari makna utamanya. Banyak anak-anak yang mulai menjalin hubungan yang tidak sesuai dengan usianya, seperti merayakan hari raya dengan pacar daripada bersama keluarga. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola interaksi sosial yang dipengaruhi oleh budaya populer dan media digital, di mana kedekatan emosional dengan teman sebaya sering kali lebih dominan dibandingkan dengan keterikatan keluarga.
Ketidakhadiran figur orang tua dalam mendampingi anak saat merayakan Idul Fitri juga menjadi faktor yang memperkuat kecenderungan ini. Alih-alih menjadikan Idul Fitri sebagai momen kebersamaan keluarga dan penguatan nilai-nilai spiritual, sebagian anak justru memaknainya sebagai ajang kebebasan yang bisa berujung pada perilaku yang kurang sesuai. Ini merupakan tantangan yang tidak mudah namun tidak perlu patah hati. Bagi orang tua dan masyarakat kembali bersemangat meneguhkan peran nya dalam mendampingi anak-anak, menciptakan ruang dialog yang nyaman, serta memberikan pemahaman bahwa kebahagiaan Idul Fitri sejatinya terletak pada kebersamaan, silaturahmi, dan penguatan nilai-nilai kebaikan.
Sebagai penutup, apresiasi setinggi-tingginya patut disampaikan kepada setiap keluarga, orang tua, pemuka agama, masyarakat di kampung- kampung halaman, dan semua pihak yang dengan penuh kesadaran telah menjadikan Idul Fitri sebagai momentum pendidikan yang bermakna bagi anak-anak. Melalui keteladanan, kasih sayang, dan bimbingan yang bijaksana, mereka bersedia mengantar anak-anak menuju gerbang kesalehan individu dan sosial—menumbuhkan nilai syukur, kebersamaan, serta kepedulian terhadap sesama.
Idul Fitri yang ramah anak bukan sekadar tradisi, tetapi cerminan komitmen kita dalam membangun generasi yang berakhlak mulia. Perayaan yang ramah anak adalah perayaan yang berpihak pada masa depan generasi yang tumbuh dalam cinta, penghargaan, dan pengalaman spiritual yang menyenangkan. Dan siap menjadi penerus yang bertanggung jawab. Semoga semangat ini terus hidup dan menjadi warisan berharga bagi masa depan.
Selamat Merayakan Idul Fitri 1446 H. Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin!
Oleh: Emi Hidayati
Posting Komentar