Karya: Moh. Danil Fathoni
Tahta itu, sebuah ilusi kejayaan,
Megah di luar, kosong di dalam,
Bagai lentera tanpa minyak,
Memberi cahaya yang hanya bayangan
Adakah penguasa tanpa rakyat?
Adakah raja tanpa kerajaan?
Ataukah ia hanya bayang-bayang sejarah?
Yang kelak di lupakan oleh sejarah?
Sebab waktu lebih adil dari kebijakan,
Ia mengikis tembok keserakahan,
Dan saat tahta itu runtuh,
Tinggal ia dalam sunyi tanpa nama
Dipuncak istana tinggi menjulang,
Di sana duduk seorang penguasa,
Tangannya memegang palu kebijakan,
Namun nuraninya tak lagi bernyawa
Ia membangun tembok, tanpa fentilasi,
Menulis hukum tanpa keadilan,
Suara rakyat terdengar jauh,
Seperti angin yang enggan bertiup ke telinganya
Di sana duduk seorang penguasa,
Tangannya memegang palu kebijakan,
Namun nuraninya tak lagi bernyawa
Ia membangun tembok, tanpa fentilasi,
Menulis hukum tanpa keadilan,
Suara rakyat terdengar jauh,
Seperti angin yang enggan bertiup ke telinganya
Tahta itu, sebuah ilusi kejayaan,
Megah di luar, kosong di dalam,
Bagai lentera tanpa minyak,
Memberi cahaya yang hanya bayangan
Adakah penguasa tanpa rakyat?
Adakah raja tanpa kerajaan?
Ataukah ia hanya bayang-bayang sejarah?
Yang kelak di lupakan oleh sejarah?
Sebab waktu lebih adil dari kebijakan,
Ia mengikis tembok keserakahan,
Dan saat tahta itu runtuh,
Tinggal ia dalam sunyi tanpa nama
Posting Komentar