1. Patriarki dan Invisibilitas Perempuan di Indonesia
Budaya patriarki di Indonesia tidak hanya hadir dalam norma sosial, tetapi juga tertanam dalam kebijakan publik dan desain institusional. Misalnya, survei Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2022 menunjukkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan hanya 54,2%, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 82,4%. Data ini mencerminkan bahwa perempuan menghadapi hambatan sistemik dalam mengakses pekerjaan formal, baik karena beban ganda sebagai pengasuh rumah tangga maupun stereotip gender yang membatasi pilihan karier mereka.Lebih jauh, invisibilitas perempuan juga terlihat dalam kebijakan kesehatan. Dalam dunia medis, standar pengobatan seringkali didasarkan pada tubuh laki-laki. Ini relevan dengan temuan Criado Perez, yang menunjukkan bahwa banyak uji klinis obat tidak melibatkan perempuan secara memadai. Di Indonesia, kasus yang mencolok adalah kurangnya perhatian terhadap kesehatan reproduksi perempuan. Data dari BKKBN tahun 2021 mencatat bahwa angka kematian ibu masih tinggi, mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini mencerminkan lemahnya sistem kesehatan yang mendukung kebutuhan spesifik perempuan.
2. Ketidakadilan dalam Kehidupan Sehari-hari
Ketidakadilan gender di Indonesia tidak hanya terjadi di ranah publik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan sering kali menjadi korban ketidakadilan struktural yang tak terlihat. Contohnya, desain transportasi umum di kota-kota besar Indonesia sering kali tidak ramah bagi perempuan. Penelitian dari ITDP Indonesia pada 2021 menunjukkan bahwa 60% perempuan merasa tidak aman menggunakan transportasi umum karena ancaman pelecehan seksual. Situasi ini menunjukkan bagaimana kebutuhan perempuan sering kali diabaikan dalam perencanaan infrastruktur.Dalam rumah tangga, perempuan juga menghadapi beban kerja yang tidak proporsional. Studi dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 mencatat bahwa perempuan Indonesia menghabiskan rata-rata 7 jam sehari untuk pekerjaan domestik yang tidak dibayar, dibandingkan dengan laki-laki yang hanya 3 jam. Beban ini menghalangi perempuan untuk mengejar pendidikan lebih tinggi atau berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi.
3. Pentingnya Data yang Inklusif
Salah satu poin penting yang disoroti Criado Perez dalam Invisible Women adalah bagaimana kekurangan data yang mencerminkan kebutuhan perempuan memperparah ketidakadilan gender. Di Indonesia, hal serupa terjadi. Banyak kebijakan dibuat tanpa mempertimbangkan data spesifik yang mencerminkan realitas perempuan. Sebagai contoh, dalam pembangunan infrastruktur, data mobilitas seringkali diambil dari perjalanan kerja formal yang lebih sering dilakukan oleh laki-laki, sementara perjalanan yang dilakukan perempuan untuk belanja atau mengantar anak sering kali tidak tercatat.Ketidakadilan ini bisa diatasi dengan mengadopsi pendekatan berbasis data yang inklusif. Misalnya, pemerintah perlu memastikan bahwa survei dan penelitian mencakup perspektif gender secara menyeluruh. Data tentang kebutuhan perempuan harus menjadi dasar dalam perencanaan kebijakan publik, mulai dari transportasi hingga kesehatan.
4. Gerakan Perempuan untuk Melawan Invisibilitas
Di tengah tantangan yang ada, gerakan perempuan di Indonesia telah memainkan peran penting dalam melawan invisibilitas ini. Organisasi seperti Komnas Perempuan, KAPAL Perempuan, Kopri dan berbagai elemen pejuang pergerakan telah aktif memperjuangkan hak-hak perempuan dan menyoroti isu-isu yang sering kali diabaikan. Gerakan ini mencakup kampanye untuk menghapuskan kekerasan berbasis gender, advokasi untuk akses kesehatan reproduksi, hingga pelatihan pemberdayaan ekonomi.Namun, perjuangan ini membutuhkan dukungan lebih luas. Solidaritas antara perempuan dan laki-laki penting untuk menciptakan perubahan yang sistemik. Selain itu, pendidikan gender harus menjadi bagian integral dari kurikulum sekolah untuk mengubah norma-norma patriarki yang sudah mengakar sejak dini.
Invisibilitas perempuan di Indonesia adalah tantangan yang kompleks, tetapi bukan tanpa solusi. Dengan mengadopsi pendekatan berbasis data yang inklusif, mendukung gerakan perempuan, dan mengubah norma sosial yang patriarkal, kita dapat menciptakan dunia yang lebih adil. Invisible Women mengingatkan kita bahwa data bukan hanya angka, tetapi representasi kehidupan manusia. Oleh karena itu, memastikan perempuan "terlihat" dalam data dan kebijakan adalah langkah awal menuju kesetaraan yang sesungguhnya.
Perempuan Indonesia tidak lagi bisa dibiarkan dalam bayang-bayang patriarki. Mereka adalah agen perubahan yang harus didukung dan dihargai dalam segala aspek kehidupan. Gerakan ini bukan hanya perjuangan untuk perempuan, tetapi juga untuk masa depan Indonesia yang lebih adil dan inklusif.
Penulis : Diyanatil Azkiya
Posting Komentar