BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Bawah Artikel

Recent

Bookmark

Kiai Sholeh Bedewang dan Geger PKI 1965

Kiai Sholeh Bedewang
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil warisan tersebut, maka ia telah mengambil bagian yang banyak” (HR. Tirmidzi)

Pena Laut - Hadits di atas memberi pemahaman kepada manusia, terkhusus bagi umat Islam di seluruh dunia, bahwa para nabi tidak mewarisi harta dan benda, melainkan ilmu. Pergumulan umat manusia sampai detik ini, jika tidak dilandasi oleh ilmu yang mapan, niscaya akan terjadi kerusakan yang fatalistik. Bagaimanapun, ilmu menjadi fondasi di setiap permasalahan yang dibebankan kepada manusia.

Para ulama memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan visi Islam: ‘Izzul Islam wal Muslimin. Oleh karenanya, dengan ilmu (naql wal ‘aql) sebagai warisan para nabi (waratsa al-Anbiya’) tersebut, manusia mampu menyingkap pendar-pendar ayat yang bertebaran di muka bumi. Ternyata tidak hanya untuk kepentingan agama belaka, namun juga untuk kepentingan umum (maslahatul ummah). Tak ayal, jika melihat bagaimana para ulama menghibahkan diri untuk kepentingan khalayak, bahkan seluruh hidupnya hanya untuk umat manusia.

Segala bentuk ketidakadilan, ketimpangan, dan serangkaian masalah sosial yang terjadi dalam konteks tertentu, niscaya terdapat peran ulama di baliknya. Hal ini karena mereka memahami bahwa ilmu tidak akan bermakna sama sekali jika hanya disimpan dan ditumpuk di dalam lemari. Atau, bahkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Ulama memiliki keimanan yang tak mampu digoyahkan oleh apapun, dan berpijak pada nilai-nilai luhur untuk membangun masyarakat yang adil, sejahtera, dan tanpa penguasaan atas golongan tertentu.

Seolah-olah ilmu yang telah dipelajari selama ngangsu kaweruh di berbagai pesantren, tidak lagi berada di dalam kepala, melainkan sudah menjadi laku sehari-hari. Saat mata melihat fenomena, derap langkah kaki tertuju pada nilai-nilai kemanusiaan, dan berdiri tegap di baris paling depan untuk “membumikan” cinta-kasih sesama umat manusia merupakan buah dari pengembaraan intelektual dan spiritual para ulama selama bertahun-tahun.

Di ujung timur pulau Jawa, terdapat sosok kiai yang hampir tenggelam dalam kesejarahan “Islam Blambangan”. Kiai dengan spirit dan perjuangan yang kokoh, namun namanya seolah-olah tergerus oleh zaman yang terus bergulir. Perjalanan panjang dari pesantren ke pesantren, dari kiai satu ke kiai yang lain, membuat kiai ini memiliki pribadi yang sabar dan teguh pada prinsip. Kiai itu adalah Kiai Sholeh, Bedewang.

Kiai Sholeh dan Manggis Rejo

Pada medio 1910-an, Kiai Sholeh lahir di Bumi Blambangan. Saat itu tanah air masih berada dalam keterkungkungan penjajah (imperialis-kolonialis) yang sudah mencekam kuat bertahun-tahun lamanya. Tepatnya, Sholeh kecil lahir di daerah dataran sedang yang terletak di kaki Gunung Raung, yakni Bedewang.

Muhammad Sholeh Abdullah diasuh oleh seorang ibu yang sangat welas dan dibimbing secara ruhani maupun jasmani oleh ayahnya, H. Abdus Shamad, Kedungliwung, dengan ketulusan dan kesabaran. Seperti halnya yang terkandung dalam hadits yang berbunyi, “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Bukhari Muslim), Sholeh kecil mendapatkan pelajaran dasar agama Islam (al-Ushul al-Din) di bawah bimbingan ayahandanya.
Gambar I:
Foto Kiai Sholeh Bedewang
Setelah menginjak usia baligh, Sholeh akhirnya memulai pengembaraan intelektual-spiritualnya di berbagai pesantren yang ada di Banyuwangi. Di antaranya Pondok Pesantren KH. Rafii Pakis, Pondok Pesantren Lugonto Rogojampi, Pondok Pesantren Cemoro asuhan KH. Abdullah Faqih, dan kemudian mengaji qira’ah ke KH. Abdul Wahab Temuguruh. Selain itu, Sholeh muda juga pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Gendong Pasuruan. [1]
Gambar II:
Catatan KH. Asmu’i menjelang Haul ke-2 KH. Sholeh Abdullah Bedewang
Setelah menimba ilmu di berbagai pesantren, akhirnya dengan semangat dakwah Islam dan menjalankan perintah para guru, akhirnya Kiai Sholeh mendirikan pesantren. Dari musholla kecil yang ada di Desa Bedewang (saat itu desa Bedewang masih termasuk wilayah kecamatan Singojuruh), Kiai Sholeh memulai dakwah. Mulanya satu-dua santri yang mengaji kepada Kiai Sholeh, namun karena kealimannya yang terdengar dari berbagai wilayah, akhirnya lambat laun berdatangan para santri dari berbagai penjuru.

Karena semakin banyaknya santri yang ingin ngangsu kaweruh kepada Kiai Sholeh, didirikanlah bangunan yang nantinya menjadi asrama tempat belajar-mengajar santri yang diberi nama: Manggis Rejo.[2] Sebagai pendiri dan pengasuh pertama, Kiai Sholeh mengajarkan berbagai kitab-kitab muktabar, antara lain Sullam al-Munajah karya Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi hingga Bidayah al-Hidayah karya Hujjatul Islam, Imam Ghazali[3].
Gambar III:
Asrama An-Nur Pondok Pesantren Manggis Rejo
Dengan penuh ketekunan, kesabaran, dan perjuangan Islam yang tanpa henti-hentinya, membuat Kiai Sholeh senantiasa bersemangat dalam mensyiarkan Islam. Ia tidak hanya mengajar santri yang usianya relatif muda, masyarakat sekitar juga berbondong-bondong ngaji kepada Kiai Sholeh yang dilaksanakan secara rutin di mushalla.

Kiai Sholeh Abdullah menikah tiga kali dan pernikahan tersebut memiliki sepuluh anak. Dari istri yang pertama melahirkan seorang anak perempuan yang bernama Siswati, sedangkan dari pernikahannya dengan Nyai Nadifah dikaruniai sembilan anak (tujuh perempuan dan dua laki-laki) dan dari pernikahan ketiga dengan Nyai Winarah tidak memiliki anak. Nantinya, mereka akan meneruskan perjuangan Kiai Sholeh dalam mensyiarkan ilmu.

Di tengah perjalanan dakwah, takdir berkata lain. Seorang kiai yang sepanjang hidupnya mendakwahkan ilmu dan nilai-nilai Islam harus menghembuskan nafas terakhir pada Rabu, 14 Juli 1976 M atau 16 Rajab 1396 H. Beliau dimakamkan di area kompleks di mana kali pertama beliau memulai perjuangan dakwahnya.

Kiai Pembela Umat: Membumikan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Indonesia memiliki sejarah yang amat kelam pada tahun 1965. Gerakan 30 September 1965 (G 30 S) adalah catatan hitam yang tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Kelompok yang erat kaitannya dengan peristiwa ini ialah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berpaham Leninisme-Marxisme (Komunisme). Pada masa kepemimpinan Soeharto, tiap tahun pemutaran film G-30-S/PKI di sekolah dan di desa-desa membuat sebagian masyarakat termakan oleh propaganda politik yang sejauh ini masih menjadi kontroversi.

Terlepas dari kontroversi yang terjadi, peristiwa yang membuat geger seantero negeri dengan penampakan “Lubang Buaya” itu, akhirnya merambah ke berbagai wilayah, salah satunya Banyuwangi.

Selang dua minggu setelah peristiwa G30S, tepatnya 18 Oktober 1965, di Banyuwangi terjadi pergolakan politik yang disebut “Peristiwa Pembantaian Cemetuk”. Dusun Cemetuk termasuk bagian wilayah Desa Cluring yang menjadi saksi bisu pembantaian massal terhadap 62 anggota Anshor asal Kecamatan Muncar.[4]

Sebab dari kemelut peristiwa itu ialah buntu dari kebijakan pemerintahan Soeharto yang kala itu mulai melakukan pembersihan dan penumpasan PKI dan para simpatisan. Sehingga, para anggota dan simpatisan PKI berupaya menyelamatkan diri ke Cemetuk.

Sedangkan polemik antara Anshor dan PKI beserta simpatisannya itu terdengar ke seluruh wilayah Banyuwangi, tak terkecuali Bedewang. Kiai Sholeh yang mendengar situasi politik yang kian memuncak tersebut, bermaksud mengumpulkan masyarakat (anggota dan simpatisan PKI) di area kompleks pesantren Manggis Rejo.

Beberapa hari kemudian, datang dua truk yang dikendarai oleh anggota Anshor ke Pesantren Manggis Rejo, Bedewang, dengan maksud ingin menemui anggota dan simpatisan PKI yang telah berada di bawah lindungan Kiai Sholeh. Para anggota Anshor bersikukuh untuk menemui mereka, namun dihadang oleh Kiai Sholeh dengan alasan ingin mengasuh dan membimbing mereka agar dapat mengaji dan menunaikan ibadah secara baik dan benar.

Karena keteguhan hati dan kesabaran Kiai Sholeh, akhirnya anggota Anshor mengurungkan niatnya untuk menumpas anggota dan simpatisan PKI yang ada di Bedewang.[5] Hal ini dilakukan Kiai Sholeh tak lain untuk membumikan Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin, menebar kasih sayang kepada semesta alam.

Dengan demikian, anggota dan simpatisan PKI dapat diselamatkan oleh Kiai Sholeh dari amukan massa Anshor. Bahkan, di bawah bimbingan Kiai Sholeh, akhirnya mereka memahami Islam dan senantiasa mengikuti pengajian Kiai Sholeh.


Oleh: Hilmi, Dendy, Hafid Aqil, Haikal, Kholid, Alaika, Roghibi.

Sumber:
1. Berdasarkan catatan-catatan salah satu menantu Kiai Sholeh, KH. Asmu’i
2. Pesantren Manggis Rejo terdata dalam Laporan Statistik Pondok Pesantren No. 32/M/1.4/II/Spd/1976. Mengenai tahun berdiri masih belum diketahui secara pasti.
3. Wawancara dengan salah satu alumni, Suhaidi, pada 12 Juli 2024.
4. Eko Budi Setianto, Politik Santet: Dinamika Politik Banyuwangi, (Sidoarjo: Delta Pijar Khatulistiwa, 2018)
5. Wawancara dengan Suhairi (masyarakat Bedewang yang menjadi saksi), pada 14 Juli 2024.
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak