Pena Laut - Sejarah mencatat, sekelompok orang mendirikan organisasi sebagai lokomotif mereka untuk menuju ke titik tertentu. Kesatuan tekad, persamaan pikiran, dan kebulatan visi menjadi unsur penting dalam organisasi untuk meraih sesuatu, bisa berupa kemerdekaan, revolusi, reformasi, kesejahteraan umum, hingga menegakkan ideologi. Organisasi, menjadi salah satu sarana yang kerap kali digunakan oleh manusia modern. Sebab dengan kekuatan kolektif, beban berat terasa enteng. Masalah segede gaban terlihat seperti biji kacang. Dan tantangan serumit benang yang mawul-mawul dapat teratasi dengan cepat dan mudah.
Mulanya, organisasi dibentuk karena kesadaran manusia akan pentingnya persatuan dan kebersamaan. Logika mereka sederhana: jika mudah dengan cara bersama-sama, mengapa harus sendirian. Kemudian, seiring berjalannya waktu, organisasi yang mereka bentuk mengalami transformasi positif. Segala teori, karakteristik, nilai-nilai, dan langkah teknis dalam menjalankan organisasi, adalah hasil dari evaluasi dan pencarian tanpa henti yang dilakukan oleh manusia modern. Sehingga, jadilah apa yang kita ketahui tentang organisasi seperti saat ini. Tak terhitung jumlahnya buku-buku yang membahas tentang definisi, karakteristik, dan teori yang melandasi organisasi. Bahkan, tidak jarang lembaga pendidikan dari sekolah dasar hingga jenjang perkuliahan masih menganggap penting pengetahuan tentang organisasi ini.
Karena organisasi itu, sebagaimana yang sering dipahami, perkumpulan banyak orang yang memiliki latar belakang beragam, sudah semestinya dinamika dan problem yang ada di dalamnya sangat kompleks. Terkadang persoalan yang terjadi amat ruwet dan mengherankan. Seperti apa yang “sudah lama” terjadi di dalam organisasi PMII Banyuwangi. Saya sengaja menulis kalimat “sudah lama” tersebut dengan maksud untuk mengingatkan kepada sahabat-sahabat saya yang ada di jalur struktural maupun kultural PMII Banyuwangi, dan kepada para alumni yang budiman, bahwa persoalan yang belakangan ini mencuat ke permukaan ialah hasil dari problem “lama” yang tak kunjung teratasi.
Maka dari itu, tulisan ini dibuat untuk sedikit memberi komentar terhadap polemik yang belakangan terjadi di PMII Banyuwangi. Polemik yang bisa dianggap sebagai dinamika organisasi dan tantangan internal yang mau tidak mau harus segera diselesaikan. Jika tidak, tinggal menunggu waktu untuk kita secara serentak membaca surah Yaasin dan tahlil plus doa yang agak panjang agar PMII Banyuwangi bisa “beristirahat” dengan tenang.
Pengurus Cabang vis-Ã -vis Kader Pembangkang
Menjelang akhir kepengurusannya, sahabat-sahabat saya yang mendekam di kepengurusan cabang PMII Banyuwangi periode 2023/2024, agaknya harus garuk-garuk kepala, mengelus dada, dan sedikit dibuat repot. Bagaimana tidak, sebab muncul gugatan dan perlawanan dari para kader atas sikap dan pola organisasi yang dilakukan PC PMII Banyuwangi. Gugatan yang mereka lakukan dapat ditelusuri dari beberapa tulisan yang disebarkan melalui media online.
Para kader yang menggugat “Kakak”-nya, PC PMII Banyuwangi, itu antara lain: Muhammad Haidar Panjalu, Ahmad Browen D., Dwi Afif Adam, Hendika Nanta, dan M. Hilmi Hafi. Selain itu, secara kelembagaan, PMII Univerisitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB) di bawah komando M. Hafid Aqil S. menyatakan sikap terhadap PC PMII Banyuwangi dengan mengeluarkan pers release. Semua kritik yang dilontarkan kepada Pengurus Cabang yang dinahkodai oleh sahabat M. Hadad Alwi Nasyafiallah itu umumnya mendesak PC PMII Banyuwangi segera menyelenggarakan Konfercab, menggugat sikap serta pola organisasi PC PMII Banyuwangi yang cenderung “menekan” dan “membatasi”, dan mengkritik kinerja yang dilakukan mereka selama satu periode “lebih”.
Sampai saat ini, kritik dan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para kader tersebut, belum mendapatkan respon serius dari Pengurus Cabang dan para alumni, terutama dari Majelis Pembina Cabang (Mabincab). Padahal, menurut saya, tindakan yang dilakukan Pengurus Cabang hari ini, sudah sangat menyimpang. Alih-alih ingin menjadi insan Ulul Albab, justru tergelincir ke posisi insan Ulul Abab—yang hanya bisa memerintah, menekan, membatasi, dan “menindas”. Selain “kemoloran” Konfercab yang tidak memiliki alasan yang jelas dan rasional, PC PMII Banyuwangi seolah-olah tidak memerdulikan proses kaderisasi yang ada di akar rumput. Mereka hanya disibukkan dengan agenda-agenda politis praktis, ndusel-ndusel kekuasaan untuk keperluan “dompet”, dan membungkam suara kritis para kader agar mereka semua tunduk dan patuh kepada “pimpinan organisasi”.
Apa yang dilakukan para kader itu, bukan berarti “pengkhianatan terhadap organisasi” yang selalu diucapkan bersama-sama saat baiat atau pelantikan. Adalah dangkal jika menganggap kritisisme kader sebagai sebuah pengkhianatan. Justru, mereka sedang berjuang menegakkan ideologi dan nilai-nilai PMII yang kian hari terus terkikis. Rasanya tidak fair apabila mereka yang kritis malah dituduh “pengkhianat”. Bukankah pengkhianat itu adalah mereka yang mendaku kader PMII, tapi secara terselubung menjual, mencari penghidupan, dan menginjak-injak nilai PMII dengan cara menindas kader?
Kader Qabil & Kader Habil: Mengurai Watak Kader PMII Banyuwangi
Untuk memperjelas konflik yang terjadi di dalam tubuh PMII Banyuwangi, perlu memahami terlebih dahulu tentang watak atau sifat para kader yang nemplok di berbagai kampus yang ada di Ujung Timur Jawa itu. Sebagai upaya untuk memahami hal tersebut, saya melampirkan sekelumit pandangan filsafat sejarah seorang tokoh revolusioner asal Iran, Ali Syariati, yang secara genius mengemukakan bahwa sejarah umat manusia adalah dua kutub yang saling berlawanan, saling menegasikan satu sama lain. Syariati, dalam Paradigma Kaum Tertindas: Sebuah Kajian Sosiologi Islam (2001), menyatakan jika kontradiksi dialektis sepanjang sejarah manusia bermula dari kedua anak Adam, Qabil dan Habil.
Dua kutub Qabil dan Habil tersebut diambil dari kisah yang termaktub dalam QS. Al-Ma’idah [5]: 27-30. Secara eksplisit Syariati memaknai Qabil sebagai seseorang atau kelompok yang memiliki sifat negatif dengan melakukan penindasan, perbudakan, dan pembodohan publik. Mereka yang berada di kubu Qabil ini adalah orang yang mengeksploitasi rakyat, mereka yang mempertahankan status quo, dan menciptakan sistem sosial yang diskriminatif, represif, dan subordinatif. Sederhananya, Qabil ialah mereka yang menindas sesama manusia dengan berbagai cara. Sedangkan, Habil dalam pandangan Syariati, merupakan seseorang atau kelompok yang senantiasa melawan tindakan eksploitatif yang dilakukan Qabil. Mereka adalah insan yang berusaha membebaskan diri dari keterbelengguan, kesengsaraan, dan kenestapaan yang disebabkan oleh kelakuan Qabil. Mudahnya, Habil dipahami sebagai entitas yang senantiasa melawan kezaliman, dan berupaya meruntuhkan sistem tiranik yang diciptakan Qabil. Dalam konteks pertentangan kelas, Qabil adalah penindas dan Habil adalah kaum tertindas.
Dari pandangan Syariati di atas, jika kita kontekstualisasikan dalam realitas kader PMII Banyuwangi, maka yang menjadi Qabil ialah para kader yang membungkam, menekan, dan menindas kader lainnya. Sedangkan, mereka yang tertindas, dibungkam, dan ditekan sampai tidak bisa berkutik sama sekali, ialah tergolong ke dalam kubu Habil. Dalam konteks polemik yang telah diuraikan sebelumnya, bisa dikatakan bahwa mereka yang menindas secara sistemik—entah ia pengurus, kader, atau bahkan alumni—dalam PMII Banyuwangi, maka ia adalah “Qabil”. Watak mereka sebagaimana yang disebut Syariati, yakni membatasi, membelenggu, menghalangi perbaikan dan perubahan, anti-kritik, menghambat proses kaderisasi, dan melakukan “perselingkuhan” (sekarang sudah terang-terangan) dengan kekuasaan untuk meraup keuntungan pribadi atau golongan tertentu.
Salah satu bukti bahwa mereka itu “Qabil” ialah, suatu saat ada kader yang mengomentari flayer acara shalawatan di grup WhatsApp. Padahal, ia hanya memberi komentar “kok flayer-nya begitu,” kira-kira demikian jika dituliskan. Mengetahui hal itu, pimpinan PC PMII Banyuwangi langsung menghubungi kader yang berasal dari komisariat yang sama dengan menanyakan: “Kadermu kok ruwet ae..njaluk-e opo?”. Tak lama kemudian, pimpinan PC PMII Banyuwangi yang berwatak Qabil itu memberi peringatan: “Hati-hati”.
Selain itu, jauh sebelumnya, terdapat kader yang memberi kritik kepada sahabat Nasa, Ketua Umum PC PMII Banyuwangi, terkait dengan visi-misi yang dikemukakan sebelumnya yang belum berjalan sepenuhnya. Seperti bertepuk sebelah tangan, kritik itu tidak berbalas. Namun, anehnya, suatu ketika salah satu kader dari komisariat yang sama (dengan pengkritik) yang tidak tahu-menahu tentang kritik yang dilakukan oleh sahabatnya justru mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari beberapa pengurus PC PMII Banyuwangi. Tak berhenti di situ, belakangan ada kader yang dikeluarkan dari grup WhatsApp PMII Banyuwangi oleh salah satu pengurus Kopri Cabang hanya karena dianggap “berisik”. Apakah demikian potret pemimpin atau pengurus yang dibangga-banggakan oleh para kader dan alumni itu? Begitukah kader yang diharapkan PMII, khususnya, dan anak muda yang diinginkan masyarakat pada umumnya?
Selanjutnya, mereka yang dibungkam, dibodohi, dan ditindas oleh kader Qabil di atas tergolong ke dalam kubu Habil. Jika Habil dalam kisah al-Qur’an dibunuh oleh Qabil, maka kader Habil ini juga “dibunuh” oleh kader Qabil dengan berbagai cara. Namun, kondisi ketertindasan yang mereka alami, tidak lantas membuat mereka pasif dan pasrah. Kesadaran mereka akan kondisi yang sudah tidak bisa ditoleransi itu, membuat mereka melawan para kader Qabil di PMII Banyuwangi. Salah satu contoh kader Habil ini ialah mereka yang berani memberi kritik maupun otokritik terhadap PMII Banyuwangi yang telah disebutkan di muka.
Selain itu, mereka lebih memprioritaskan proses kaderisasi daripada politik dan segala intrik-nya. Kader Habil ini tidak mudah dikendalikan atau di-“setir” oleh para alumni, atau orang tertentu. Mereka ini cakap dan kritis dalam memahami realitas, terutama persoalan yang terjadi di dalam PMII Banyuwangi. Mereka juga tidak takut kepada siapa pun ketika memperjuangkan kebenaran dan menegakkan keadilan, utamanya dalam organisasi. Dan, mereka disibukkan dengan membaca tumpukan buku, berdiskusi, melakukan refleksi cerdas, menulis, serta melakukan aksi nyata yang berpihak kepada kaum tertindas. Setidak-tidaknya, mereka membela kepentingan kader, berusaha mengaktualisasikan nilai-nilai PMII dalam derap langkah mereka, dan melakukan “pemberontakan” intelektual yang dapat membongkar kedok borjuis-kapitalistik kekuasaan.
Kedua tipologi tersebut juga ada di organisasi kemahasiswaan, Ormas keagamaan, dan komunitas masyarakat lainnya. Kendati dua kubu yang telah dijelaskan di atas memiliki perbedaan yang jelas, tidak menutup kemungkinan para kader yang kita anggap sebagai “Habil” ternyata justru bertindak selayaknya “Qabil”. Hal ini dikarenakan adanya kemunafikan dari kader yang mempunyai bakat “akting” kelas wahid. Karena itu, kita harus benar-benar cermat mengamati sekeliling kita, apalagi saat-saat seperti Konfercab. Bisa jadi, kader-kader Qabil sedang ethok-ethok menjadi kader Habil untuk maksud politis: menggalang dukungan untuk kemenangan Konfercab. Sungguh, demikian itu merupakan sifat yang ndelogok.
Sekali lagi, kader Qabil yang ada di PMII Banyuwangi itu mereka yang menindas kader lainnya, seperti Ketua Umum PC PMII Banyuwangi beserta “abdi ndalem”-nya, para alumni yang mengintervensi kader untuk kepentingan pribadi dan politis, serta siapa saja yang ikut andil menciptakan sistem organisasi (PMII) yang “sakit”. Sedangkan, kader Habil itu mereka yang senantiasa di baris depan melawan penindasan (meski penindasan itu dilakukan oleh “sahabat”-nya sendiri), menolak tunduk pada pimpinan dan/atau alumni yang destruktif, dan mengabdikan diri di PMII dengan cara-cara tertentu seperti belajar tanpa henti, membaca dan menulis, melakukan aksi nyata, memihak kepada mereka yang tertindas, dan menciptakan pemberontakan positif untuk memperbaiki tatanan yang timpang dan laju organisasi yang menyimpang.
Lantas, bagaimana kita menyikapi kader Qabil yang berjibun jumlahnya di Bumi Blambangan ini? Secara tegas saya katakan, mereka harus dilawan. Bukankah Rasulullah menyerukan kepada kita untuk senantiasa melawan kezaliman, dan mengingatkan kepada sesama Muslim yang berbuat zalim? Tidak ada alasan untuk diam dan bahkan mengabaikan persoalan yang “sudah lama” mengakar kuat dan mendominasi di PMII Banyuwangi. Dengan melawan sifat “Qabil” yang menjangkiti sahabat-sahabat kita dengan berbagai cara, berarti kita telah berusaha menyelamatkan mereka dari kehancuran yang akan membuat mereka menyesal di kemudian hari. “Dengan melawan”, kata Pram, “kita tidak akan sepenuhnya kalah”.
PC PMII Banyuwangi Mampus = Mabincab Tidak Becus
Sejauh pembacaan saya dari berbagai tanggapan kader yang telah menulis di beberapa media, mereka masih cenderung membidik Pengurus Cabang sebagai entitas yang dipersoalkan. Padahal, di balik Pengurus Cabang itu, ada Majelis Pembina Cabang (Mabincab) yang memiliki peranan sangat penting di tingkat Cabang. Sebab, keberadaan mereka diharapkan mampu mengawasi, membina, dan menasihati Pengurus Cabang jika ternyata mereka telah “berbelok arah”. Anggap saja, Mabincab itu sebagai “Bapak” yang tidak mungkin diam tengak-tenguk sambil menikmati roti dan kopi ketika anak-anaknya berselisih pendapat dan bahkan sampai bertengkar.
Jika menengok kembali susunan PC PMII Banyuwangi masa khidmat (khidmat kepada PMII, atau penguasa?) 2023/2024 di bawah kepemimpinan sahabat Nasa, Majelis Pembina Cabang (Mabincab) berjumlah dua puluh enam orang dengan Abdul Aziz, S.H., M.H, sebagai Ketua, Sunandi, M.Pd, sebagai Wakil Ketua, Fajar Isnaeni, S.E., M.M., sebagai Sekretaris, dan Dr. Ana Aniati, M.Pd., sebagai Bendahara Mabincab. Setidaknya, mereka yang disebutkan itu adalah representasi dari Mabincab periode saat ini.
Jelas mereka tahu tentang “ontran-ontran” yang belakangan menyeruak di permukaan PMII Banyuwangi. Tidak mungkin mereka menutup mata dan telinga atas konflik yang menggegerkan PMII kali ini. Kalau mereka tidak tahu, berarti mereka sudah “meninggal” sebelum mati. Dan, bagi saya, mereka bukan sosok alumni yang patut dijadikan contoh oleh para kader dan anggota PMII Banyuwangi saat ini—jika mereka benar-benar menutup mata dan telinga. Anggaplah mereka tahu dan paham duduk perkara konflik itu. Kemudian, timbul pertanyaan: apa yang sudah mereka lakukan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di antara anak-anak mereka?
Dari dulu, setidaknya ketika saya masih ngenger di PMII, problem semacam ini selalu berulang. Mabincab, sebagai “Bapak” yang semestinya nuturi anak-anaknya, mengingatkan dan bahkan menegur kesalahan yang dilakukan anak-anaknya, seakan-akan diabaikan begitu saja. Nalar mereka tak ubahnya seperti kader Qabil, yaitu oportunis dan hipokrit. Jika konflik yang terjadi tidak menguntungkan mereka, dibiarkan larut begitu saja. Atau, jika persoalan yang terjadi “mengancam” posisi mereka, cepat-cepat mereka mengerahkan bala tentara untuk menyelesaikannya. Dengan kata lain, mereka melihat persoalan di PMII Banyuwangi laiknya “barang” dagangan. Bisa jadi, kader Qabil yang saat ini mendekam di Sekretariat PC PMII Banyuwangi dan yang ada di komisariat atau rayon itu, meniru nalar dan karakter “borjuis” para alumni yang duduk di kursi Mabincab itu.
Saya memang sengaja menulis nama mereka dengan “embel-embel” gelar akademik, agar para kader tahu, bahwa Mabincab itu adalah seorang “intelektual”. Soal mereka tergolong intelektual jenis apa, silakan nilai sendiri. Lebih jauh, para Mabincab yang telah disebutkan tadi, mempunyai posisi cukup strategis di Banyuwangi. Sudah barang tentu, mereka menempuh “laku politis-praktis”. Sehingga, pola pikir dan tindakan mereka lebih dominan “laku politis” daripada “laku intelektual”. Dari sini kita dapat sama-sama mengoreksi, bagaimana tanggung jawab mereka selama menjadi Mabincab. Menurut saya, Mabincab adalah entitas yang harus bertanggung jawab atas persoalan yang selama ini terjadi. Jika Mas Aziz, Mas Sunandi, Mas Fajar, dan Mbak Ana sudah nuturi Pengurus Cabang, mengapa mereka (kader) masih dengan bebas menindas dan “merampok” di sana-sini? Jika njenengan-njenengan merasa masih menjadi Mabincab, harusnya para kader itu di-“openi”—bukan hanya materiil, melainkan juga moriil.
Selain Mabincab, ada elemen penting yang tidak boleh diabaikan, yaitu Ikatan Alumni PMII Banyuwangi. Mereka juga ikut bertanggung jawab, setidaknya menjadi mediator, antara Pengurus Cabang (kader Qabil) dan kader yang sedang memperjuangkan hak-haknya (kader Habil). Namun, langkah mediasi tidak boleh ada intervensi sedikitpun dalam persoalan ini. Bagaimanapun, biarkan persoalan ini diselesaikan secara “kesatria” oleh para kader, sebab ini tidak lain adalah dinamika yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh kader sebagai pembelajaran. Kalau beberapa alumni IKA PMII Banyuwangi bersikap pasif, ya konflik ini tidak akan pernah rampung dan menemukan titik terang. Tentu kita semua berharap, pihak IKA PMII Banyuwangi, Mas Agus Baidlowi dan para alumni lainnya, membaca “pertengkaran” mereka secara objektif. Sehingga dapat menilai dengan seksama, apa dan siapa sebab pertikaian ini.
Pengurus Cabang hari ini sedang “mampus” dan “sempoyongan”, mereka hilir-mudik di kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya dan “sowan politik” (istilah Kuntowijoyo) untuk menyusun strategi agar Konfercab tidak diselenggarakan bulan Januari ini, sebagaimana yang dituntut kader PMII UNIIB. Barangkali, menurut Pengurus Cabang, kedudukan di PC PMII Banyuwangi masih “enak”, sehingga “eman” kalau ditinggalkan dengan tangan hampa. Sedari dulu saya itu heran, kenapa posisi PC PMII Banyuwangi tidak henti-hentinya diperebutkan (bahkan dengan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mendapatkannya) oleh para kader. Ya, budaya demokratis harus tetap jalan memang, tapi ketika mereka jadi, kok ujung-ujungnya tetap melahirkan “penindasan”. Mereka itu meniru siapa? Mahbub Djunaidi dan Gus Dur saja, setahu saya tidak demikian.
O, barangkali mereka itu meniru Mabincab yang selalu “nempel” di pilar-pilar Pendopo dan Ormas keagamaan itu. Maka tak ayal, jika karakter Pengurus Cabang dan beberapa kader lainnya di Banyuwangi ini cenderung hipokrit dan menindas. Hal itu disebabkan oleh “ketidakbecusan” Mabincab, sebagai Bapak organisasi, yang seharusnya “membina” dan menasihati para kader yang salah jalur, menyimpang, dan menindas. Apalagi, kalau mereka ikut membantu upaya penindasan yang dilakukan kader Qabil, maka ia bukanlah Adam (ayah dari Qabil dan Habil), melainkan…(silakan isi sendiri).
Aqulu qauli hadza: atas nama keadilan dan kemaslahatan, dalem Dendy Wahyu Anugrah sebagai kader PMII Banyuwangi, menggugat PC PMII Banyuwangi beserta “abdi-abdi”-nya dan Mabincab untuk segera menyelesaikan persoalan yang terjadi di tubuh PMII Banyuwangi. Juga, saya memohon kepada para alumni, wa bil-khusus IKA PMII Banyuwangi, untuk turut membantu membebaskan para kader yang dibuat “mampus” oleh kader PMII yang berwatak Qabil. Sistem dan model organisasi yang menekan, membatasi gerakan, dan menindas harus dicabut sampai ke akar-akarnya. Sebab, persoalan semacam ini tidak akan pernah benar-benar usai, jika hanya diselesaikan dengan dalih “jalur moderat”. Ada dua pilihan: “membunuh” Qabil atau “dibunuh” Qabil. Tidak ada lagi jalur tengah, sebab sebagaimana yang dulu pernah kami alami, keputusan “damai” hanya akan memperpanjang dan memperkuat budaya penindasan.[]
Hormat dalem,
Dendy Wahyu Anugrah (Pengangguran terselubung, pembangkang terbuka)
Posting Komentar