Organisasi ini didirikan pada tanggal 4 Mei 1950 di Yogyakarta, dan sejak saat itu, GMNI telah menjadi bagian penting dari pergerakan mahasiswa di Indonesia, yang memiliki tujuan mencetak pemimpin-pemimpin muda yang memiliki rasa cinta tanah air serta kemampuan intelektual yang mumpuni.
Sebagai organisasi yang berfokus pada pendidikan dan pengembangan karakter mahasiswa, GMNI juga berperan dalam memperjuangkan keadilan sosial dan menciptakan lingkungan kampus yang sehat serta produktif.
Melalui berbagai kegiatan dan program, GMNI mengedepankan nilai-nilai nasionalisme, demokrasi, dan hak asasi manusia.
Sejarah Terbentuknya GMNI
GMNI pertama kali didirikan di Yogyakarta pada tahun 1950 dengan tujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang lebih utuh dan berdaulat.Beberapa tokoh penting yang terlibat dalam pendirian GMNI antara lain adalah Soekarno, Mohammad Hatta, dan beberapa tokoh pergerakan kemerdekaan lainnya.
GMNI sendiri lahir dari proses peleburan tiga organisasi mahasiswa yang berasaskan Marhaenisme, ajaran Bung Karno.
Adapun Ketiga organisasi yang melebur adalah:
1. Gerakan Mahasiswa Marhaenis (Yogyakarta)
2. Gerakan Mahasiswa Merdeka (Surabaya)
3. Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (Jakarta)
Proses peleburan ketiga organisasi ini dimulai pada awal September 1953. Pada saat itu, organisasi GMDI atau Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia ditengah perjalanan tiba - tiba melakukan pergantian pengurus. Semula dipimpin oleh Drs. Sjarief kemudian diganti oleh S.M. Hadiprabowo.
Kemudian dalam salah satu rapat pengurus GMDI di Gedung Proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, muncul keinginan mempersatukan ketiga organisasi yang memiliki asas serupa dalam satu wadah.
Kemudian keinginan ini disampaikan kepada pimpinan dua organisasi lainya, Gerakan Mahasiswa Marhaenis serta Gerakan Mahasiswa Merdeka dan mendapat sambutan positif.
Setelah serangkaian pertemuan penjajakan, tercapai sejumlah kesepakatan dalam rapat bersama yang diadakan di rumah dinas Walikota Jakarta Raya (Soediro), Jalan Taman Suropati.
Kesepakatan tersebut antara lain:
1. Setuju untuk melakukan fusi (penggabungan).
2. Menyepakati nama "Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia" (GMNI), setelah melebur.
3. Azas organisasi sesuai dengan ajaran Bung Karno yaitu Marhaenisme.
4. Mengadakan Kongres I GMNI di Surabaya dalam jangka waktu enam bulan setelah pertemuan.
Adapun pimpinan yang hadir dari ketiga organisasi tersebut adalah:
- Gerakan Mahasiswa Merdeka: Slamet Djajawidjaja, Slamet Rahardjo, Heruman.
- Gerakan Mahasiswa Marhaenis: Wahyu Widodo, Subagio Masrukin, Sri Sumantri Martosuwignyo.
- Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia: S.M. Hadi Prabowo, Djawadi Hadi Pradoko, Sulomo.
Kongres I GMNI dan Hari Lahir GMNI
Dengan restu Presiden Sukarno, Kongres I GMNI dilaksanakan pada 22 Maret 1954 di Surabaya. Momentum ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi GMNI yang diperingati hingga kini.Kongres I membahas hasil kesepakatan antara tiga organisasi yang bergabung dan menetapkan personil pimpinan di tingkat pusat.
Namun, persoalan konsolidasi internal belum selesai, sehingga dua tahun kemudian (1956), GMNI menggelar Kongres II di Bandung. Hasilnya, organisasi cabang GMNI mulai tertata di beberapa kota.
Perkembangan dan Tantangan GMNI
GMNI terus berkembang, mengadakan Kongres III di Malang pada tahun 1959, yang dihadiri banyak cabang.Pada tahun yang sama, GMNI menggelar Konferensi Besar di Kaliurang, Yogyakarta, dimana Presiden Soekarno memberikan pidato berjudul "Hilangkan Steriliteit Dalam Gerakan Mahasiswa!"
Namun, perjalanan GMNI tidak selalu mulus. Peristiwa G30S/PKI tahun 1965 membawa dampak besar. GMNI menghadapi perpecahan internal dan stagnasi.
Meskipun demikian, organisasi ini mencoba bangkit melalui Kongres V di Salatiga pada tahun 1969.
Independensi GMNI
Sejak tahun 1969, semangat "Independensi GMNI" kembali menguat, terutama di kalangan aktivis di Jakarta dan Yogyakarta. GMNI berupaya kembali ke khittah perjuangannya sebagai organisasi independen.Hal ini ditegaskan dalam Kongres VI GMNI di Jakarta tahun 1976, yang mengukuhkan independensi dan konsolidasi organisasi.
Dinamika dan Regenerasi
Dinamika internal GMNI terus berlanjut hingga Kongres VII di Medan tahun 1979, yang menegaskan pentingnya keseimbangan antara konsolidasi ideologi dan organisasi.Namun, intervensi pihak luar dan konflik internal tetap menjadi tantangan besar, hingga pada akhir 1980-an dan 1990-an, GMNI menghadapi masa-masa sulit, termasuk perpecahan di tingkat pusat.
Meskipun begitu, cabang-cabang GMNI tetap bergerak dengan memperkuat ideologi dan kaderisasi di daerah masing-masing.
Kebangkitan GMNI
Pada tahun 2001, Kongres Luar Biasa (KLB) GMNI diadakan untuk menjembatani perpecahan dan menyusun kembali strategi perjuangan organisasi.Sejak itu, hubungan antar kader di berbagai cabang semakin erat, dengan semangat kembali ke nilai-nilai dasar perjuangan GMNI.
Baiklah GMNI adalah organisasi mahasiswa yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa.
Dengan landasan Marhaenisme, GMNI terus berjuang untuk mencetak pemimpin muda yang memiliki integritas dan kepedulian sosial.
Meski menghadapi berbagai tantangan, semangat perjuangan GMNI tetap hidup hingga kini. Mari kita dukung GMNI untuk terus berkontribusi bagi Indonesia yang lebih baik.
Sumber : Sejarah Singkat GMNI
Baca Juga : Filosofi Logo GMNI
Posting Komentar