BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Bawah Artikel

Recent

Bookmark

Membaca Narasi Penolakan Habib Syech di Banyuwangi

Penolakan Habib Syech di Banyuwangi
“Kenestapaan keagamaan, pada saat yang sama, merupakan ungkapan kesengsaraan nyata dan sekaligus protes melawan penderitaan yang nyata tersebut. Agama adalah keluh kesahnya makhluk yang tertindas, jantungnya dunia yang tak punya hati, karena itu ia merupakan roh dari suatu keadaan yang tak memiliki roh. Agama adalah candu rakyat.”

Pena Laut - Kalimat yang pernah ditulis Karl Marx dalam The Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1843) di atas, memberikan dua pemahaman tentang sifat ganda suatu agama: “agama sebagai candu” dan “agama sebagai protes”. Tulisan Marx ini acap kali dipenggal oleh sebagian orang yang sentimen terhadap pemikiran-pemikiran Marx. Karena itulah, saya tulis teks lengkap kalimat Marx di sini. Sepertinya kita perlu menanggalkan dulu perihal sentimen ideologis dan politis kita sebagai pembaca, agar kita dapat benar-benar jernih memahami maksud dari kalimat tersebut.

Sesungguhnya, Marx telah memahami bahwa agama memiliki dua sifat ganda yang bisa digunakan sebagai alat perjuangan dan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan di satu sisi, dan menjadi “candu” (yang memabukkan) di sisi lain. Dari sini kita dapat melihat dengan jelas, bagaimana “bahaya” agama ketika dipahami secara taken for granted, dangkal, dan sarat akan kepentingan politis praktis. Agama Islam, misalnya, bisa menjadi rahmat untuk seluruh manusia (rahmatan lil ‘alamin), juga berpotensi menjadi “butiran ekstasi” dan berujung pada sikap-sikap yang jauh dari ajaran Islam. Sebelumnya mohon maaf jika tulisan ini sedikit mengganggu pemahaman sebagian pembaca yang budiman tentang agama.

Menurut hemat saya, kalimat Marx yang hampir berusia dua abad itu masih relevan dan perlu menjadi bahan refleksi atas fenomena keberagamaan kita saat ini. Ambil contoh, seperti yang belakangan sedang ramai diperbincangkan publik di Banyuwangi, yaitu beredarnya video penolakan kedatangan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di Banyuwangi. Penolakan oleh sejumlah tokoh itu bermula setelah flayer “Malam Refleksi Akhir Tahun” yang dirilis oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi. Acara doa bersama dalam rangka menyambut tahun baru tersebut mengundang Habib Syech untuk mengisi shalawatan yang akan digelar di RTH Maron, Genteng, Banyuwangi pada 31 Desember 2024 mendatang.

Di dalam video yang beredar di media sosial itu (misalnya dalam unggahan akun Instagram @beritatentangbanyuwangi pada beberapa waktu lalu), ada beberapa orang, antara lain: Yunus Wahyudi (seorang aktivis LSM Banyuwangi), dan beberapa orang yang tergabung dalam komunitas Perjuangan Walisongo Indonesia (PWI) Banyuwangi dan Laskar Fisabilillah Banyuwangi. Alasan mereka menolak kedatangan Habis Syech karena menurut pernyataan “Si Harimau Blambangan”, Pak Yunus, Habib Syech telah “melecehkan” Nahdlatul Ulama.

Membaca Narasi Penolakan Habib Syech di Banyuwangi

Untuk memahami apa maksud dari penolakan tersebut, saya mencoba menelaah pernyataan yang disampaikan oleh Pak Yunus dalam video sebelumnya yang saya anggap sebagai juru bicara (Jubir). Pernyataan Pak Yunus sebagai berikut:

“Hasil dari rapat ini kita bersepakat untuk kehadiran Habib Syech, di mana Habib Syech ini telah melecehkan tentang NU. Di mana di dalam lagu-lagunya mengucapkan bahwa Habib Rizieq adalah gurunya NU, Habib Rizieq adalah idolanya NU. Maka ini tidak ada kaitannya sama sekali, jangan sampai NU ini dirusak oleh habib-habib yang tidak bertanggung jawab, sehingga menciptakan satu konflik di dalam NU sendiri. Kita seakan diadu domba, diaku-aku sampai lagu Indonesia Raya kemerdekaan diaku habib. Terus tokoh-tokoh pendiri NU diaku habib. Ini bentuk daridapa pembohongan publik, atau bentuk kriminalisasi, atau bentuk orang-orang Islam (yang ada di NU) diremehkan, bahwa NU seakan adalah karangan para habib...”

Jika kita mencermati beberapa alasan yang disampaikan oleh Pak Yunus, setidaknya terdapat beberapa hal yang menjadi poin penting: pertama, Habib Syech telah melecehkan NU dengan lagu-lagu yang menyebut Habib Rizieq Shihab sebagai guru dan idola NU; kedua, lagu Indonesia Raya diakui ciptaan dari kalangan Habaib; ketiga, NU diakui sebagai “karangan” para habib. Sekurang-kurangnya saya menangkap tiga alasan ini yang membuat mereka menolak kedatangan Habib Syech di Banyuwangi.

Fenomena demikian sebenarnya sudah banyak dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia, dan di Banyuwangi kemudian melakukan gerakan serupa karena ada kabar bahwa Habib Syech akan datang dan shalawatan di RTH Maron, Genteng akhir tahun mendatang. Saya tidak akan fokus pada persoalan nasab Ba’alawy yang digugat oleh KH. Imaduddin dan kelompoknya (perlu diketahui, bahwa PWI Banyuwangi juga termasuk para pendukung Kiai Imad). Dan, saya juga tidak akan membahas sejarah Nahdlatul Ulama, lagu Indonesia Raya, dan penyebutan Habib Rizieq Shihab di dalam lagu-lagu yang dinyanyikan Habib Syech. Dalam tulisan ini, saya hanya akan mempertanyakan secara skeptis narasi yang disampaikan Pak Yunus dan orang-orang yang menolak kedatangan Habib Syech—dengan tanpa bermaksud “membela” siapa pun.

Pertama, Pak Yunus menyampaikan bahwa Habib Syech telah melecehkan NU. Jika benar bahwa Habib Syech melecehkan NU, pertanyaannya kemudian: di bagian mana NU dilecehkan? Saya sepakat, jika sejarah NU dan lagu Indonesia Raya dibelokkan itu adalah suatu tindakan yang kurang tepat—jika tidak mengatakan salah. Tidak hanya untuk para habaib, tapi kepada siapa pun yang membelokkan sejarah NU atau sejarah yang lain. Tapi, narasi yang disampaikan oleh Pak Yunus kurang begitu jelas tentang pelecehan NU tersebut. Kalau toh alasan yang mendasar hanya persoalan lagu, mengapa tidak meminta pihak penyelenggara untuk memastikan bahwa lagu-lagu yang dianggap sebagai bentuk “tindakan pelecehan terhadap NU” itu tidak dinyanyikan?

Kedua, lagu Indonesia Raya dan NU sebagai karangan para habib. Jujur, saya mendengar alasan ini tidak begitu paham apa yang sebenarnya menjadi pokok persoalan mereka yang menolak kedatangan Habib Syech. Kalau persoalan lagu yang “diaku-aku” dan para pendiri NU diklaim dari kalangan habaib, bukankah untuk membuktikan hal ini perlu melalui jalur akademis, dengan penelusuran sejarah dan pembacaan yang ketat? Lagi-lagi, pertanyaan saya, kenapa harus menolak kedatangan Habib Syech yang itu pun atas undangan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi?

Ketiga, Pak Yunus mengatakan: “kita warga Banyuwangi (para kiai, gus, santri, tokoh masyarakat, dan semua Ormas) menolak kedatangan Habib Syech”. Mendengar pernyataan Pak Yunus Si Harimau Blambangan itu, saya justru skeptis. Kalau yang disebut warga Banyuwangi, pertanyaan saya: warga Banyuwangi yang mana? Sebab, kita tahu, warga Banyuwangi tidak semuanya Nahdliyin dan, saya yakin, tidak semua menolak kedatangan Habib Syech. Kemudian, siapa yang dimaksud para kiai, santri, dan tokoh masyarakat itu? Kiai dan santri dari pesantren mana? Sebab, kita tahu, pesantren di Bumi Blambangan ini sangat banyak. Terakhir, ini membuat saya semakin skeptis: apakah benar semua Ormas di Banyuwangi menolak kedatangan Habib Syech? Apakah NU, Muhammadiyah, LDII, Al-Irsyad, dan sebagainya benar-benar ikut menolak kedatangan Habib Syech? Sejauh ini saya kok belum menerima bukti yang jelas dari organisasi-organisasi ini.

Islam Agama “Rahmah”, Bukan Agama “Marah”

Sependek pengetahuan saya, Islam yang diajarkan oleh para kiai (khususnya kiai NU) dan guru selama ini, adalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Islam tidak pernah mengajarkan dan memerintah kita untuk membenci sesama Muslim. Hal ini seperti yang disabdakan Nabi Muhammad Saw., yang artinya: “Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya (sesama Muslim) seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari). Dalam hadis lain dikatakan: “Seorang Mukmin terhadap Mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian lainnya’, lalu Nabi mengepalkan jari jemarinya” (HR. Bukhari).

Dari dua hadis tersebut telah jelas bahwa sesama umat Islam dilarang untuk saling membenci atau bahkan bermusuhan. Sebab, seluruh umat Islam itu bersaudara. Tentu, sebagai saudara yang baik, jika salah seorang saudaranya melakukan kesalahan, ya diingatkan, bukan malah dijauhi. Jika mereka njenengan anggap salah, mengapa njenengan tidak merangkul mereka? Mengapa malah menolak dan seolah-olah membuat mereka terpojokkan?

Padahal Kanjeng Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda agar kita (sebagai sesama Muslim) untuk tidak saling membenci, tidak saling hasud, dan saling bermusuhan. Nabi bersabda dari Anas bin Malik: “Jangan kalian saling membenci, jangan saling hasud, dan jangan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara, dan tidak dihalalkan seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari” (HR. Bukhari).

Sekali lagi, sependek pengetahuan saya, Islam selalu mengajarkan sikap welas asih, mencintai sesama (entah itu Muslim atau bukan), dan menyeru kepada kita untuk menebar kebaikan di muka bumi. Bukan malah membenci, menolak kedatangan orang-orang yang “dianggap” salah, melainkan merangkul mereka, menyayangi mereka, dan menuntun mereka ke jalan yang dikehendakiNya dan RasulNya.

Toh, kedatangan Habib Syech di Banyuwangi bukan dalam rangka berbuat kejahatan atau kemungkaran. Justru kedatangan Habib Syech di Bumi Blambangan ini untuk mengajak masyarakat Banyuwangi melangitkan sekaligus membumikan shalawat atas Nabi Muhammad dan mensyiarkan Islam yang “ramah”, bukan Islam yang “marah”. Saya yakin, Habib Syech tidak bermaksud memecah belah umat atau bahkan “melecehkan NU” di Banyuwangi. Sama sekali tidak. Kalau kedatangan Habib Syech dianggap “memecah belah umat Islam”, lantas aksi penolakan yang njenengan-njenengan lakukan itu, apakah tidak berpotensi memecah belah dan melecehkan umat Islam?

Saya justru takut, jika Islam dipahami secara sektarian sehingga menjelma menjadi “candu” dan menghasilkan tindakan-tindakan yang tidak dikehendaki oleh Islam itu sendiri.[]


Oleh: Dendy Wahyu Anugrah
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak