Di bangku sekolah dasar, Endi berusaha untuk bersikap ceria, meskipun sering kali menjadi sasaran olokan teman-temannya. Setiap hari, ia merasa cemas dan mudah tersakiti oleh perkataan mereka. Suatu ketika, saat waktu mengaji di masjid, teman-temannya meminta Endi untuk mengumandangkan adzan Isyak.
“Eh Endi, kamu adzan Isyak ya!” teriak teman-temannya.
“Kenapa harus aku? Nanti kalau aku yang adzan, pasti dikunciin pintu!” jawab Endi, dengan suara bergetar.
“Enggak kok, pasti!” balas mereka.
Meskipun ketakutan menyelimuti, Endi merasa terpaksa dan akhirnya masuk ke masjid. Dengan perasaan yang bergetar, ia mengumandangkan adzan. Namun, benar saja, setelah selesai, pintu masjid pun dikunci oleh teman-temannya. Endi bingung dan terjebak di dalam, sementara teman-temannya bersembunyi di luar.
Merasa tertekan dan tidak ada pilihan lain, Endi menangis. Suaranya yang menggema di mikrofon masjid membuat teman-temannya terkejut. “Arek arek pujian rek,” setelah itu Endi pujian “Robbana atina fiddunya hasanah.....” sambil menahan tangis.
Setelah mendengar suara Endi yang penuh emosi, teman-temannya akhirnya membuka pintu dan masuk untuk menggantikan Endi. Namun, Endi merasa hancur dan pulang ke rumah sambil menangis.
Setelah melewati pengalaman pahit itu, Endi memasuki sekolah menengah. Di sana, ia mulai berusaha membangun kepercayaan diri dan mentalnya sedikit demi sedikit. Ia menyadari bahwa pengalaman hidup, baik yang menyakitkan maupun menyenangkan, membentuk karakternya.
Kejadian di masjid menjadi pelajaran berharga bagi Endi. Ia belajar bahwa menghadapi rasa takut adalah langkah penting untuk tumbuh. Kini, jika tantangan datang lagi, Endi tidak lagi merasa tertekan. Ia menganggapnya sebagai kesempatan untuk belajar dan menjadi lebih kuat.
Cerita tentang Endi memberikan pesan mendalam tentang bagaimana pengalaman hidup membentuk diri kita. Dari momen yang menyakitkan, Endi belajar untuk tidak lagi "baperan" dan menganggap setiap tantangan sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Kini, ia siap menghadapi dunia dengan percaya diri dan keberanian yang baru.
Oleh: M. Endi Fadlullah
Posting Komentar